Idul Fitri baru saja berlalu. Namun perayaan Idul Fitri di tahun ini benar-benar memberikan kesan yang mendalam bagiku. Allah memberikanku suatu karunia namun disisi lain Allah "mengembalikan" sesuatu yang hampir tiga tahun ini serasa kumiliki kepada mustahiqnya.
Ya....waktu tiga tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur sebuah hubungan.... . Bagi kami tiga tahun ini adalah waktu untuk" ta'aruf" mencoba mengenali, memahami kepribadian kami masing-masing dengan cara yang kami anggap terbaik versi kami. Cara yang kami pandang sangat menjunjung tinggi etika, nilai agama dan sebagainya.
Namun dalam tiga tahun ini justru kami terjebak dalam labirin yang tak tentu jalan keluarnya. Semakin kami masuk ternyata semakin berputar-putar dan berliku jalan yang kami hadapi. Aku merasa, sebagai lelaki harusnya aku segera mengambil sikap. Akankah perjalanan ini diteruskan dengan segala konsekuensinya di depan. Atau berhenti sampai batas ini dan segera mencari jalan lain.
Setahun terakhir ini keraguan itu semakin memuncak, sekali lagi karena hubungan kami yang sedikit renggang karena kesibukan aktivitas kami masing-masing. Panjat do'a dan munajat pun menyertai perjalanan "ta'aruf" kami di awal tahun ini agar kiranya jalan menuju istana kebahagiaan yang kami idamkan itu semakin dipermudah oleh Allah.
Namun disaat keyakinan kembali kuperoleh, ketika rencana mengikrarkan apa yang ada di hati sudah dipersiapkan, dan ketika kumpulan bisharoh hasil cucuran keringat sedikit terkumpulkan untuk tujuan silaturrahim ke wilayah seberang.....
Allah berkendak lain...... Ternyata keyakinan untuk segera mengikrarkan hubungan ini di hari yang fitri ini bukanlah jawaban atas panjat do'a selama ini....Namun Kepastian Allah bahwa 'sesorang yang kita sayangi,sesorang yang sempat mengisi relung hati, seorang teman meretas mimpi membangun istana kebahagiaan' harus menjadi milik orang lain....ternyata adalah jawaban pintaku selama ini..........
" Ya Allah jika ia memang baik bagi agamaku,baik bagi kehidupanku, dan baik pula akibatnya bagiku maka tetapkanlah ia untukkku. dan mudahkanlah ia bagiku, kemudian berikanlah keberkahan bagiku di dalamnya. Namun jika ia tidak baik bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan tidak baik pula akibatnya bagiku....maka jauhkanlah aku darinya dan jauhkanlah dirinya dariku"
Ibarat kapal tidak mungkin lagi aku bersandar di darmaga itu.Karena darmaga itu kini telah tertutup. Akupun harus melanjutkan pelayaran, meskipun kapalku tak lagi utuh...berlubang dilambungnya akibat terjalnya karang....aku harus menambalnya...karena akupun tak ingin kapalku karam sebelum mendapatkan darmaga untuk berlabuh..................
Terkadang terbersit pertanyaan dalam diriku........Ya Allah sampai kapankah kiranya hamba harus berlayar lagi..........Hamba letih Ya Allah..........